30 November 2024 - 19:20
Krisis Gangguan Mental di Israel Meroket, Angka Bunuh Diri dan Kasus Narkoba Melonjak

Berdasarkan laporan April 2022, persentase warga Israel yang menggunakan zat psikoaktif yang sangat berbahaya mencapai 22,7%, dan angka ini meningkat seiring dimulainya serangan agresif rezim Zionis di Gaza.

  Kini, angka bunuh diri dan penggunaan narkoba di kalangan Zionis semakin meningkat tajam. Fenomena ini yang lebih dari segalanya menunjukkan bagian dari krisis psikologis di kalangan masyarakat Israel.

Ali Maarofi Arani, seorang peneliti di bidang Yudaisme dan Zionisme menulis dalam sebuah catatan di Mehrnews, dengan mengatakan,"Seiring dimulainya serangan agresif rezim Zionis di Gaza, jumlah Zionis yang menggunakan narkoba dan zat adiktif berbahaya seperti alkohol, ganja dan obat-obatan lain telah meningkat sebesar 25%.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh sumber-sumber Zionis pada bulan November dan Desember 2023, setelah serangan 7 Oktober 2023 (Operasi badai Al-Aqsa) dan perang Gaza, para pemukim Zionis meningkatkan konsumsi zat adiktif, konsumsi obat tidur dan obat penghilang rasa sakit yang meningkat sebesar 180% dan telah meningkat sebesar 70%.

Penggunaan narkoba di kalangan Zionis bukanlah hal baru. Sebab menurut laporan, militer Zionis telah memiliki tingkat konsumsi yang tinggi di wilayah tersebut. Sebuah laporan yang dilakukan pada tahun 2012 oleh sebuah lembaga Inggris menyatakan bahwa statistik penggunaan narkoba di kalangan tentara Israel mencapai 22% dan menunjukkan bahwa penggunaan narkoba di tentara Israel meningkat empat kali lipat dari tahun 1993 hingga 2012.

Kemudian pada tahun 2021, surat kabar Zionis, Jerusalem Post dalam sebuah laporan mengumumkan bahwa ganja adalah opioid paling populer di kalangan tentara Israel.

April 2022, persentase warga Israel yang menggunakan zat psikoaktif yang sangat berbahaya mencapai 22,7%, dan dengan dimulainya serangan agresif rezim ini di Gaza, angka ini telah mencapai 26,6%.

Pada saat yang sama, surat kabar Zionis Yedioth Ahronoth mengumumkan bahwa penyebaran masalah mental dan psikologis di kalangan tentara Zionis telah menyebabkan otoritas militer membentuk departemen khusus untuk rehabilitasi mental para prajurit dan mengundang banyak psikiater untuk bekerja sama.

Surat kabar Zionis Ha'aretz juga mengutip Yossi Peled, kepala Pusat Penelitian Bunuh Diri dan Sakit Mental di Robin Center Israel yang mengakui bahwa perang di Gaza berdampak buruk pada kondisi mental tentara Israel. Menurutnya, banyak tentara yang bunuh diri, dan mereka menderita gangguan jiwa karena kejahatan yang mereka lakukan di Gaza.

Sehubungan dengan itu, Organisasi Radio dan Televisi Zionis melaporkan pada November 2024 bahwa Assaf Dagan, seorang tentara cadangan Israel, melakukan bunuh diri. Setelah itu, Santiago Awadia, seorang prajurit tentara Israel bunuh diri setelah kembali dari perang di Gaza.

Saluran berita CNN dalam sebuah laporan yang mengacu pada tingkat kejahatan kemanusiaan Israel di Gaza menulis, "Peningkatan angka bunuh diri di antara tentara yang kembali dari perang Gaza menunjukkan kerusakan psikologis serius yang dialami oleh orang-orang yang terlibat dalam genosida yang sedang berlangsung di jalur ini".

Menurut laporan tersebut, tentara Israel saat ini sedang menangani ribuan tentara yang didiagnosis menderita penyakit mental akibat trauma (gangguan stres pascatrauma), atau PTSD, selama perang Gaza.(PH)

342/